cinta adalah buah dari pernikahan yang dilandasi karena ALLAH.

menikah kemudian muncul cinta, bukan saling cinta kemudian menikah.

kalau sekarang sedang terbelenggu cinta dan masih mikir-mikir untuk menikah, sebaiknya segera ambil keputusan menikah saja. tapi kalau dalam hitungan kesiapan (kemampuan) belum memadai untuk menikah sebaiknya putuskan untuk tidak bermain-main dengan cinta kecuali setelah menikah.

kata seorang guru : “cinta itu seperti ayam kampung, sedangkan hati itu seperti kamar pribadi. kalau ayam kampung masuk kamar pribadi kita maka akan membuat berantakan isi kamar pribadi kita, dan ketika ayam kampung itu diusir pergi, jejaknya masih tersisa minimal aroma. jagalah hati jangan dimasuki cinta yang lain selain cinta kepada ilahi”.

mengukur kemampuan untuk memutuskan menikah di usia muda sebenarnya tidak sukar.

menurut seorang guru, kemampuan dasar bagi lelaki untuk menikah itu ada 4 :

1. mampu berpikir

2. mampu “berhubungan”

3. mampu bersabar

4. mampu bekerja

mampu berpikir akan membuat masalah apapun yang dihadapi dalam rumah tangga akan terselesaikan, atau minimal diketahui resiko-resiko keputusan yang diambil.

mampu “berhubungan” adalah sebuah piranti yang dapat merubah hukum menikah. bagi yang tidak mampu menunaikan “hajat” dalam “berhubungan” ALLAH tidak mewajibkannya untuk menikah, bahkan bisa jadi dilarang kecuali dengan syarat penerimaan yang dipahami tanpa paksaan.

kesabaran adalah pilar selanjutnya yang harus tegak menopang, kokoh menguatkan. kesabaran akan membuat rasa cinta tumbuh subur dan romantisme mengalir deras.

bekerja menghasilkan karya memposisikan seseorang di lingkungannya sebagai pribadi yang berprestasi, namun tanpa kemampuan menafkahi keluarga maka seorang lelaki akan kurang percaya diri terutama di depan istri.

ke-4 kemampuan tersebut harus diukur dengan baik oleh pihak lelaki dan perempuan menggunakan pijakan keislaman tentunya, karena tidak ada variabel khusus yang bisa digunakan sebagai parameter.

intinya kalau sudah punya ke-4 kemampuan meskipun minim, asalkan ke-2 belah pihak memahami dan berkomitmen untuk saling menopang dan memberdayakan maka “tunggu apa lagi”.

segera datangi orang tua, komunikasikan sebaik-baiknya, tawarkan kepada sahabat yang memiliki keluarga untuk kita nikahi, urus surat menyuratnya, siapkan mahar, adakan walimah / resepsi (meski hanya seekor kambing), undang teman-teman atau saudara-saudara. maka akan mengalir banyak ungkapan do’a:

BAROKALLAHU LAKA WA BAROKA ‘ALAYKA WA JAMA’A BAYNAKUMA FI KHOIRIN

Advertisements